| Nomor Putusan | 4/Pid.Pra/2022/PN Lbs |
| Klasifikasi Perkara | Pidana |
| Kategori Perkara | Hukum Acara |
| Isu Dalam Perkara | Penangkapan; Upaya Paksa; |
| Isu HAM Terkait | Hak Atas Kebebasan Pribadi; Penangkapan Sewenang-wenang; |
| Dilihat | 339 kali |
| Majelis Hakim | Putusan Judex Facti/Juris
|
Putusan Serupa |
Tindakan penangkapan dinyatakan tidak sah dan merupakan tindakan yang tidak mengimplementasikan prinsip dan standar HAM apabila dilakukan tidak sesuai dengan prosedur, seperti dilaksanakan pada dini hari, melebihi jangka waktu penangkapan, terdapat perbedaan nama petugas yang melakukan penangkapan dengan petugas yang tertera pada Surat Perintah Penangkapan, Surat Perintah Penangkapan tidak ditembuskan kepada keluarga Pemohon, serta dilakukan tanpa adanya pemeriksaan dan pemberitahuan penetapan tersangka sebelumnya.
Putusan ini merupakan putusan Pengadilan Negeri Lubuk Sikaping dalam perkara praperadilan atas sah tidaknya penetapan tersangka, penahanan, dan penangkapan Pemohon yang diduga melakukan pembakaran alat berat. Dari hasil pemeriksaan, Hakim menemukan fakta bahwa telah terjadi kesalahan prosedur dalam proses penangkapan Pemohon dimana penetapan tersangka dan penangkapan terhadap Pemohon dilakukan tanpa terlebih dahulu melakukan pemeriksaan atau pemberitahuan penetapan sebagai tersangka terhadap Pemohon. Selain itu, Hakim mempertimbangkan waktu penangkapan yang melebihi 1x24 jam dan mulai dilaksanakan pada pukul 04.00 WIB - 05.00 WIB/pagi dini hari yang dinilai sebagai waktu yang tidak lazim karena pada umumnya waktu tersebut adalah waktu dimana seseorang masih beristirahat dan belum melakukan aktivitas. Hakim juga menemukan fakta bahwa terdapat perbedaan nama petugas yang melakukan penangkapan dengan petugas yang tertera pada Surat Perintah Penangkapan dan Surat Perintah Penangkapan tidak ditembuskan kepada keluarga Pemohon. Hakim kemudian menilai bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak mengimplementasikan Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas penyidik sebagaimana diatur dalam Pasal 21 huruf d Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Hakim menyatakan bahwa penangkapan atas diri pemohon tidak sah.
Secara umum, putusan ini dapat dinilai telah memenuhi prinsip-prinsip HAM, khususnya terkait hak atas kebebasan pribadi dan tidak dikenai penangkapan yang sewenang-wenang, meskipun tidak menyebutkan secara eksplisit prinsip-prinsip tersebut dalam pertimbangan. Hal ini terlihat dari tindakan Hakim yang menyatakan penangkapan terhadap adalah tidak sah dengan mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran prosedur hukum dalam penangkapan tersebut, yaitu penangkapan telah melebihi waktu 1x24 jam, dilaksanakan pada dini hari, terdapat perbedaan nama petugas yang melakukan penangkapan dengan petugas yang tertera pada Surat Perintah Penangkapan, Surat Perintah Penangkapan tidak ditembuskan kepada keluarga Pemohon, serta dilakukan tanpa adanya pemeriksaan dan pemberitahuan penetapan tersangka sebelumnya. Hal ini kemudian dipertegas oleh Hakim dengan menyatakan bahwa penangkapan dengan kondisi-kondisi tersebut merupakan tindakan yang tidak mengimplementasikan Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas penyidik sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Penangkapan
dan penahanan terkait erat dengan hak atas kebebasan pribadi (right to liberty) yang menyatakan bahwa tidak seorangpun boleh ditangkap atau ditahan
secara sewenang-wenang dan dirampas kebebasannya kecuali atas dasar dan sesuai
dengan prosedur yang ditetapkan oleh undang-undang [1]. Hal yang sama
dinyatakan oleh Komite HAM PBB dimana pembatasan kebebasan seseorang – salah
satunya dalam bentuk tindakan penahanan – harus dilakukan berdasarkan
alasan-alasan dan prosedur yang diatur dalam undang-undang [2]. Pandangan
serupa juga disampaikan oleh Pengadilan HAM Eropa, yaitu bahwa pembatasan
kebebasan seseorang dianggap sah apabila, salah satunya, memenuhi prosedur yang
diatur dalam undang-undang [3]. Selain sejalan dengan ketentuan-ketentuan HAM
tersebut, pertimbangan Hakim dalam perkara ini juga sejalan dengan
putusan-putusan pengadilan HAM Uni Eropa yang menyatakan bahwa penangkapan
dan/atau penahanan yang dilakukan tidak berdasarkan kewenangan atau dilakukan
tidak sesuai dengan prosedur hukum domestik merupakan pelanggaran atas hak atas
kebebasan dan keamanan. [4]
Lebih
lanjut lagi, terdapat dua kriteria penting yang harus dipenuhi dalam rangka
melindungi hak kebebasan seseorang, yaitu: a) adanya pemberitahuan pada saat
penangkapan terjadi kepada subjek yang ditangkap mengenai alasan
penangkapannya; dan b) adanya pemberitahuan sesegera mungkin mengenai tindak
pidana yang dituduhkan kepadanya [5]. Dalam konteks hukum Indonesia,
keseluruhan kriteria terkait penangkapan dan penahanan yang disyaratkan oleh
KIHSP tersebut telah diatur melalui KUHAP. KUHAP mengatur bahwa, pada saat
melakukan penangkapan, petugas kepolisian harus memperlihatkan surat tugas dan
surat perintah penangkapan yang menjelaskan alasan penangkapan serta kejahatan
yang dituduhkan kepada tersangka. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa
penyimpangan dari prosedur penangkapan dan penahanan yang ada dalam KUHAP
sebenarnya sama dengan penyimpangan terhadap prinsip HAM. Maka, putusan
pengadilan dalam perkara praperadilan ini, yang menyatakan penangkapan terhadap
Pemohon adalah tidak sah, sudah sejalan dengan prinsip HAM.
Selain
itu, untuk dapat melakukan pembatasan hak atas kebebasan terhadap seseorang,
harus ada kecurigaan yang beralasan bahwa orang tersebut telah melakukan tindak
pidana [6]. Hal ini juga telah diatur dalam KUHAP. Oleh sebab itu, seharusnya
subjek yang dapat dikenai tindakan penangkapan adalah mereka yang sudah
berstatus tersangka karena sudah ada dugaan atau kecurigaan yang beralasan
bahwa orang tersebut merupakan pelaku kejahatan. Maka, dalam perkara ini,
pengadilan sudah tepat dalam menyatakan penangkapan tidak sah karena, pada saat
penangkapan, belum ada penetapan status Pemohon sebagai tersangka.
[1] International
Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)/Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan
Politik (KIHSP), General Assembly
Resolution No. 2200A (XXI), 16
Desember 1966, Pasal 9 ayat (1);
[2] Human
Rights Committee, General Comment
No. 35: Article 9 (Liberty and security of person)/Komentar Umum No. 35: Pasal 9 (Hak atas
kebebasan dan keamanan pribadi), CCPR/C/GC/35, 16 Desember 2014, par. 22. Lihat
juga Body of Principles for the
Protection of All Persons under Any Form of Detention or Imprisonment/Prinsip-prinsip Pokok terkait Perlindungan bagi
Orang yang Mengalami Segala Bentuk Penahanan atau Pemenjaraan, General Assembly Resolution 43/173, 9 Desember 1988, Principle 36 par. 2;
[3] European Court of Human Rights, Wassink v. The Netherlands, Application no. 12535/86, 27 September 1990, par. 24. Lihat juga European Court of Human Rights, Kemmache v. France (No.3), Application no. 17621/91, 24 November 1994, par. 42; African Commission on Human and Peoples’ Rights, Media Rights Agenda v. Nigeria, Communication No. 224/98 (2000), par. 43;
[4]
European Court of Human Rights, Khudoyorov
v. Russia, Application No.
6847/02, 8 November 2005, par. 139 - 143; Zenkov v. Russia, Application
No. 37858/08, 30 Juli 2014, par. 60 dan 61; Braga v, The Republic of Moldova and Russia, Application No. 76957/01, 5 Maret 2018, par. 57 -
61; Grubnyk v. Ukraine, Application No. 58444/15, 17 Desember 2020, par.
83 - 85; Rytikov v. Ukraine, Application No. 52855/109, 23 Agustus 2024, par.
26 - 29;
[5] Komentar Umumt
No. 35…, Op. Cit., par. 24. Lihat
juga Body of Principles for the
Protection of All Persons…, Op. Cit.,
Principle 10;
[6] Council of Europe, Convention for the Protection of Human Rights and
Fundamental Freedoms, ETS No.
005, 4 November 1950, Art. 5 par. 1(c).